Potret 1000 Ulama Kharismatik Aceh: Mengenang Kiprah Abuya Batu Korong dari Singkil

Potret 1000 Ulama Kharismatik Aceh: Mengenang Kiprah Abuya Batu Korong dari Singkil
Aceh singkil
Aceh singkil
Aceh singkil

Newscyber.id | ACEH SINGKIL – Sosok ulama kharismatik Aceh, Abu H. Imam Baihaqi M. Tahir atau yang lebih dikenal sebagai Abuya Batu Korong, menjadi bagian penting dalam program “Potret 1000 Ulama Kharismatik Aceh” yang digagas Pustaka Jawi Abi Panton.

Abuya Batu Korong memiliki nama asli Abu Imam Baihaqi bin Muhammad Tahir. Julukan Abuya Batu Korong melekat setelah beliau membuka dayah di kawasan Batu Korong, Desa Lipat Kajang, Aceh Singkil. Dari tempat itulah kiprah dan pengabdiannya dalam dunia pendidikan Islam berkembang luas hingga dikenal masyarakat Singkil dan sekitarnya.

Dalam peta keilmuan Aceh Singkil era kontemporer, Abuya Batu Korong disebut sebagai salah satu ulama besar yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan agama dan kehidupan keagamaan masyarakat. Selain beliau, terdapat dua ulama besar lainnya yakni Abuya Bahauddin Tanah Merah dan Abuya Zamzami Syam pimpinan Pesantren Darul Hasanah Syaikh Abdurrauf As-Singkili. Ketiganya dikenal sebagai “guru besar” masyarakat Singkil dan Subulussalam.

Sejak usia dini, Abuya Batu Korong telah dipersiapkan oleh ayahnya, Syaikh Muhammad Tahir, untuk menjadi seorang ulama. Pendidikan agama langsung diberikan oleh sang ayah yang juga seorang mursyid tarekat. Berbagai cabang ilmu agama dipelajari sejak kecil, mulai dari Al-Qur’an, kitab-kitab Jawi hingga hafalan kitab matan dalam Mazhab Imam Syafi’i.

Kemampuan keilmuan Abuya Batu Korong berkembang pesat. Bahkan pada usia 16 tahun, beliau telah disulukkan oleh ayahnya dan dipercaya menjadi asisten dalam bidang ilmu dan tarekat.

Pada tahun 1947, Abuya Batu Korong melanjutkan pendidikan ke Dayah Darussalam Labuhan Haji di bawah asuhan ulama besar Aceh, Abuya Syaikh Muda Waly Al-Khalidy. Beliau termasuk generasi awal murid Abuya Muda Waly dan sezaman dengan sejumlah ulama besar Aceh lainnya.

Setelah menamatkan pendidikan di Dayah Darussalam, Abuya Batu Korong menetap di Desa Lipat Kajang, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil. Di daerah tersebut beliau mengabdikan diri sebagai guru agama dan pembimbing masyarakat.

Semangat besar dalam membangun pendidikan Islam mendorong Abuya membuka kawasan Batu Korong yang saat itu dikenal angker. Dengan tekad dan tawakal, beliau mendirikan Pesantren Babussalam Batu Korong pada tahun 1989.

Keberadaan pesantren tersebut kemudian menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak guru agama dan tokoh masyarakat. Kawasan Batu Korong yang sebelumnya dikenal sebagai hutan angker perlahan berubah menjadi kawasan pendidikan yang diminati masyarakat.

Tidak berhenti di pesantren, pada tahun 2002 Abuya Batu Korong juga menggagas berdirinya Sekolah Tinggi Agama Islam Syaikh Abdurrauf Singkil (STAISAR) sebagai jenjang lanjutan pendidikan bagi para santri.

Selain itu, beliau juga dikenal sebagai pelopor pendirian dayah di kawasan perbatasan, termasuk di wilayah Danau Paris yang dinilai rentan terhadap persoalan keagamaan.

Abuya Batu Korong wafat pada tahun 2015 dalam usia lebih dari 80 tahun. Namun jasa, perjuangan, dan warisan pendidikannya terus dikenang masyarakat Aceh Singkil dan sekitarnya.

Program “Potret 1000 Ulama Kharismatik Aceh” sendiri merupakan ikhtiar mendokumentasikan wajah, sanad keilmuan, serta perjuangan para ulama Aceh dalam bentuk digital art portrait dan literasi sejarah.

“Satu demi satu potret ulama sedang diproses menjadi Digital Art Portrait. Bukan sekadar gambar, tetapi ikhtiar mengabadikan wajah, sanad, dan jejak perjuangan ulama Aceh dalam karya visual dan literasi sejarah,” tulis Pustaka Jawi Abi Panton.

Perjalanan menuju dokumentasi 1000 ulama kharismatik Aceh tersebut disebut masih terus berlangsung dan akan terus bertambah di masa mendatang. (Ramli Manik)