Petani Aceh Besar Pasrah Hadapi Ancaman Gagal Panen Akibat Kekeringan, Warga Desak Solusi Krisis Air Bersih

Petani Aceh Besar Pasrah Hadapi Ancaman Gagal Panen Akibat Kekeringan, Warga Desak Solusi Krisis Air Bersih
Foto bawah : Muslim ( 57 ) warga Mon Ikeun Kecamatan Lhok Nga mengatakan Bupati sudah menghimbau masyarakat Mon Ikeun untuk melaksanakan Solat Istisqa ( Solat Minta Hujan) ( SN24)
banner

banner

banner

Aceh Besar, Newscyber.id – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Besar kian mengkhawatirkan. Kondisi ini tidak hanya mengancam pasokan air bersih bagi masyarakat, tetapi juga membuat para petani pasrah menghadapi ancaman gagal panen akibat lahan pertanian yang mengering.

Pantauan di Gampong Lambaro Seubun, Kecamatan Lhoknga, Minggu (2/8/2026) siang, menunjukkan hamparan sawah yang telah ditanami padi kini berubah kering kerontang. Tanah sawah tampak retak-retak akibat minimnya pasokan air, sehingga tanaman padi terancam mati sebelum memasuki masa panen.

Selain Gampong Lambaro Seubun, kondisi serupa juga terlihat di Gampong Nusa dan Gampong Mon Ikeun. Lahan pertanian di wilayah tersebut mengalami kekeringan, sementara rerumputan mulai menguning dan mengering akibat cuaca panas yang berkepanjangan.

Salah seorang warga Gampong Mon Ikeun, Muslim (57), mengatakan musim kemarau tahun ini terasa jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Kemarau tahun ini sangat terasa. Panasnya lebih menyengat dibandingkan tahun lalu. Sawah-sawah mulai mengering dan petani khawatir tidak bisa panen," ujarnya.

Ancaman gagal panen yang semakin nyata membuat banyak petani hanya bisa berharap hujan segera turun. Jika kondisi ini terus berlangsung, hasil produksi pertanian di sejumlah wilayah Aceh Besar diperkirakan akan mengalami penurunan signifikan.

Menyikapi kondisi tersebut, Bupati Aceh Besar Muharam Idris atau yang akrab disapa Syeh Muharam sebelumnya telah mengimbau para ulama dayah, santri, dan masyarakat untuk melaksanakan Salat Istisqa atau salat meminta hujan. Seruan tersebut disampaikan beberapa hari lalu sebagai ikhtiar menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan.

Tak hanya sektor pertanian yang terdampak, krisis air bersih juga mulai dirasakan masyarakat di beberapa kecamatan. Sumber air baku milik PDAM Tirta Montala dilaporkan mulai menyusut, sehingga distribusi air kepada pelanggan tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Di Kecamatan Peukan Bada, misalnya, sejumlah sumur warga mulai mengering. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.

Seorang warga Gampong Lam Lumpu yang enggan disebutkan namanya berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Besar segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis air bersih.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya bergantung pada sumber mata air di Gampong Mata Ie, Kecamatan Darul Imarah. Ia mengusulkan agar pemerintah mencari sumber air alternatif, seperti pembangunan sumur bor maupun pemanfaatan sumber air sungai yang tersedia di sejumlah kecamatan.

"Kami berharap pemerintah segera mencari solusi jangka panjang. Jangan hanya mengandalkan satu sumber mata air, tetapi juga membangun sumur bor atau memanfaatkan sumber air lain agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi," harapnya.

Masyarakat kini berharap hujan segera turun dan pemerintah dapat mempercepat langkah penanganan, baik untuk menyelamatkan lahan pertanian maupun menjamin ketersediaan air bersih bagi warga yang terdampak. (SN24)