BBM Jadi Polemik di Aceh Singkil, Pro-Kontra Tak Terhindarkan: “Semua Jadi Korban”
Newscyber id l Aceh Singkil – Polemik ketersediaan dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali memanas di tengah masyarakat. Situasi mengkhawatirkan ini menimbulkan pro-kontra antara pengecer, konsumen, dan pihak SPBU. Pasca banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera, Aceh Singkil menjadi salah satu daerah yang paling terdampak kekacauan suplai BBM.
Fakta di Lapangan
1. Pengecer enggan menjual dengan harga normal karena harus mengantre berjam-jam.
2. Pembatasan pembelian BBM membuat harga pengecer melonjak.
3. Konsumen menolak membeli eceran karena harga mencapai Rp35–Rp50 ribu per liter.
4. Warga lebih memilih antre panjang demi mendapatkan harga resmi.
5. Stok cepat habis karena warga Tapanuli Tengah ikut mencari BBM hingga ke Aceh Singkil.
6. “Kalau mau dapat ya antre, kalau tidak ya siap beli mahal,” ujar salah satu pengecer.
7. Mobil hanya boleh mengisi Rp100–200 ribu sehingga harus kembali antre keesokan harinya.
8. Sepeda motor dibatasi Rp20–30 ribu.
9. Muncul pengecer dadakan yang membeli untuk dijual kembali.
10. “Jangan ikut antre biar kami bisa jual murah,” klaim seorang pengecer.
11. Pihak SPBU meminta warga tidak menimbun dan menyatakan pembatasan demi pemerataan.
12. Warga mengaku stres dengan kondisi ini.
Dampak yang Makin Luas
Harga bahan pokok naik
Aktivitas pekerja terganggu
ASN kesulitan masuk kantor
Kemacetan dan kendaraan mogok di jalanan meningkat
Emosi masyarakat tak stabil
Belum Ada Solusi Konkret
Meski BBM tidak langka secara nasional, distribusi menuju Aceh Singkil terganggu akibat bencana alam. Warga berharap pemerintah daerah, Pertamina, dan aparat penegak hukum segera mencari solusi agar situasi tidak semakin memburuk.
Sumber: Warga Aceh Singkil & Pengakuan Pengecer di Lapangan (Ramli Manik)




