Rumah Harapan untuk Ibu Mawarni dan Empat Anak Yatim di Aceh Singkil

Rumah Harapan untuk Ibu Mawarni dan Empat Anak Yatim di Aceh Singkil

Newscyber.id l Aceh Singkil – Di sebuah sudut Kabupaten Aceh Singkil, seorang ibu bernama Mawarni harus menjalani kehidupan penuh keterbatasan bersama empat orang anak yatim yang diasuhnya. Selama ini, mereka berlima tinggal di sebuah gubuk sederhana berukuran sekitar 4 x 4 meter tanpa sekat, tanpa kamar tidur, dan tanpa ruang yang layak untuk belajar maupun beristirahat.

Dalam ruang sempit tersebut, seluruh aktivitas keluarga berlangsung—mulai dari tidur, memasak, hingga anak-anak belajar seadanya. Kondisi itu membuat kehidupan mereka jauh dari kata layak dan memprihatinkan.

Situasi tersebut menggugah kepedulian Komunitas Gerakan Relawan Rumah Dhuafa Indonesia (GARDA Indonesia) untuk menghadirkan solusi nyata melalui pembangunan rumah hunian layak bagi Ibu Mawarni dan anak-anaknya.

Tak sekadar membangun tempat tinggal, GARDA Indonesia mengusung konsep rumah produktif. Rumah tersebut dirancang memiliki ruang usaha di bagian depan agar dapat dimanfaatkan Ibu Mawarni untuk berjualan atau membuka usaha kecil demi menopang perekonomian keluarga.

Selain ruang usaha, rumah ini nantinya akan dilengkapi kamar tidur layak untuk anak-anak, ruang keluarga sederhana, dapur, serta fasilitas sanitasi yang lebih sehat. Kehadiran rumah ini diharapkan mampu memberikan rasa aman, kenyamanan, dan privasi yang selama ini tak pernah mereka rasakan.

Inisiator GARDA Indonesia, Aduwina Pakeh, menegaskan bahwa program ini bukan semata membangun fisik bangunan, melainkan membangun harapan dan masa depan keluarga dhuafa.

“Kami tidak ingin hanya memberikan bantuan sesaat. Yang kami bangun adalah solusi jangka panjang. Rumah ini dirancang agar menjadi tempat tinggal yang layak sekaligus sumber penghidupan. Ketika seorang ibu bisa berusaha dari rumahnya sendiri, di situlah martabat dan masa depan anak-anaknya mulai terjaga,” ujar Aduwina.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut ambil bagian dalam gerakan kemanusiaan tersebut.

“Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin bergotong royong. Sedikit bantuan dari banyak orang akan menjadi kekuatan besar untuk mengubah nasib satu keluarga,” tambahnya.

Sementara itu, Darwis, ST, selaku penggerak GARDA Indonesia wilayah Aceh Singkil, menyampaikan bahwa kondisi Ibu Mawarni dan keempat anaknya memang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

“Kami melihat langsung bagaimana mereka tinggal dalam ruang yang sangat sempit dan tidak layak. Anak-anak kesulitan belajar dengan tenang, dan ibunya pun terbatas dalam mencari penghasilan. Program rumah produktif ini menjadi jawaban atas dua persoalan sekaligus, yakni hunian dan ekonomi,” kata Darwis, didampingi Supardi Bancin dan Salman Manik, penggerak GARDA Indonesia lainnya.

Ke depan, GARDA Indonesia berencana menggandeng berbagai komunitas, relawan, serta para dermawan untuk berkolaborasi, baik dalam bentuk dukungan pembiayaan pembangunan rumah, bantuan modal usaha, maupun penyediaan kebutuhan dasar seperti sembako dan perlengkapan dagang.

Semangat gotong royong menjadi landasan utama gerakan ini—bukan sekadar membangun rumah, tetapi membangun masa depan, mengangkat martabat, dan membantu keluarga Ibu Mawarni keluar dari jerat kemiskinan.

Rumah harapan ini diharapkan kelak menjadi simbol kepedulian sosial dan bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama-sama. (Ramli Manik)