PKGB USK dan KOAS Teken Kerja Sama, Rawa Singkil Diproyeksikan Jadi Pusat Ekowisata Burung Migran Berbasis Sains
Newscyber.id l Aceh Singkil — Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Pusat Riset Konservasi Gajah dan Biodiversitas Hutan Universitas Syiah Kuala (PKGB USK) dengan Konservasi Alam Aceh Singkil (KOAS) menjadi tonggak penting dalam penguatan pendekatan ilmiah terhadap pengelolaan keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Rawa Singkil.
Kolaborasi ini difokuskan pada integrasi riset biodiversitas, pendidikan konservasi, serta pengabdian kepada masyarakat sebagai fondasi pengelolaan ekosistem yang berorientasi pada keberlanjutan ekologis dan kesejahteraan sosial masyarakat sekitar.
Salah satu agenda utama kerja sama tersebut adalah pengembangan ekowisata burung migran berbasis sains (science-based ecotourism). Rawa Singkil diketahui merupakan bagian penting dari jalur migrasi burung Asia–Australasia (East Asian–Australasian Flyway) yang menghubungkan Siberia, Asia Timur, Asia Tenggara, hingga Australia. Ribuan burung air dan burung rawa menjadikan kawasan ini sebagai habitat singgah, mencari makan, dan berkembang biak.
Founder KOAS, Dio Fahmizan, S.T, menegaskan bahwa nilai strategis Rawa Singkil dalam jaringan migrasi burung global selama ini belum terintegrasi secara sistematis dalam perencanaan pembangunan daerah.
“Melalui kemitraan dengan PKGB USK, kami membangun basis data ekologis dan spasial yang kuat. Ekowisata burung tidak boleh dibangun atas asumsi, tetapi harus berbasis bukti ilmiah tentang pola migrasi, habitat kunci, dan daya dukung lingkungan,” ujarnya.
Saat ini, KOAS di bawah kepemimpinan Muhammad Husein bersama tim akademisi dan kader lapangan telah melaksanakan sejumlah kegiatan teknis, meliputi pelatihan identifikasi dan pemantauan burung migran (avian monitoring), pemetaan habitat serta titik pengamatan menggunakan teknologi GPS dan Sistem Informasi Geografis (SIG), hingga penguatan kapasitas masyarakat lokal sebagai pemandu ekowisata berbasis konservasi.
Pendekatan tersebut mengacu pada praktik internasional yang telah diterapkan di kawasan Mai Po Wetlands, Hong Kong, di mana ekowisata burung dikelola secara terpadu sebagai instrumen konservasi, penelitian, dan penguatan ekonomi lokal.
Sementara itu, Kepala PKGB USK, Prof. Dr. Abdullah, S.Pd., M.Si, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memastikan pembangunan di kawasan sensitif ekologis seperti Rawa Singkil berjalan sesuai prinsip ilmu pengetahuan dan tata kelola lingkungan.
“Melalui MoU ini, riset universitas berinteraksi langsung dengan realitas lapangan. Data yang dihasilkan tidak hanya untuk publikasi akademik, tetapi juga untuk memperkuat kebijakan daerah dan praktik pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan,” jelasnya.
KOAS menilai pengembangan ekowisata burung migran membutuhkan dukungan serius dari pemerintah daerah, terutama dalam pengakuan Rawa Singkil sebagai zona ekowisata konservasi, integrasi hasil riset ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan kebijakan daerah, serta pembangunan infrastruktur ringan yang ramah ekosistem.
Dengan landasan riset ilmiah dari USK dan keterlibatan aktif masyarakat lokal, Rawa Singkil diproyeksikan berkembang tidak hanya sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai laboratorium alam terbuka dan destinasi ekowisata ilmiah bernilai nasional hingga internasional.
“Ini adalah upaya menggeser paradigma pembangunan, dari eksploitasi lahan menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan jasa ekosistem,” tutup Dio Fahmizan. (Ramli Manik)




