Pelabuhan Haji Sage Kembali Disorot: Dugaan Pengiriman Barang Ilegal Picu Pertanyaan Besar untuk BC Batam
Newscyber.id | Batam – Pengawasan di kawasan laut perbatasan Batam kembali menjadi sorotan. Aktivitas keluar masuk barang di Pelabuhan Haji Sage, Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, diduga masih berlangsung intensif meski lokasi tersebut sebelumnya pernah menjadi sasaran penindakan aparat gabungan pada November 2025.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait efektivitas pengawasan di wilayah yang dikenal rawan terhadap lalu lintas barang ilegal. Publik mempertanyakan apakah sistem pengawasan benar-benar berjalan maksimal atau justru terdapat celah yang terus dimanfaatkan oleh oknum tertentu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber lapangan, aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan tersebut disebut masih berlangsung rutin. Bahkan, pengiriman barang menuju wilayah Tanjung Balai Karimun diduga tetap berjalan menggunakan kapal berukuran sedang.
Salah satu sumber menyebut, terdapat beberapa kapal yang secara rutin keluar masuk membawa berbagai komoditas kebutuhan pokok dan logistik lainnya.
“Kapal masih sering keluar masuk. Pengiriman barang disebut masih berjalan ke Karimun,” ujar sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Tidak hanya itu, muncul pula dugaan adanya sosok berinisial HR, yang disebut-sebut berperan penting dalam aktivitas distribusi barang di jalur tersebut. Namun hingga kini, informasi itu masih sebatas keterangan lapangan dan belum ada pernyataan resmi dari aparat maupun pihak terkait.
Jika dugaan tersebut benar, maka persoalan ini tidak sekadar menyangkut pelanggaran administratif, tetapi dapat membuka indikasi lemahnya kontrol terhadap jalur distribusi laut yang berpotensi dimanfaatkan untuk aktivitas melanggar aturan kepabeanan.
Sorotan tajam pun mengarah kepada instansi pengawasan, terutama Bea Cukai Batam dan KSOP, yang dinilai publik perlu memperketat pengawasan di kawasan pelabuhan rakyat maupun jalur laut tidak resmi.
Pasalnya, penggerebekan besar yang pernah dilakukan sebelumnya dinilai belum sepenuhnya memberikan efek jera. Jika aktivitas serupa masih terjadi, maka perlu evaluasi menyeluruh terhadap pola pengawasan, koordinasi lintas instansi, hingga potensi adanya kelalaian atau celah pengawasan.
Sejumlah warga sekitar turut mempertanyakan mengapa aktivitas yang sebelumnya pernah ditindak justru diduga masih terus berlangsung.
“Kalau memang pernah ditertibkan, kenapa sekarang masih muncul lagi dugaan aktivitas seperti ini? Artinya pengawasan harus dievaluasi,” ujar seorang warga.
Masyarakat mendesak agar dilakukan investigasi komprehensif terhadap operasional Pelabuhan Haji Sage, mulai dari legalitas aktivitas bongkar muat, dokumen pelayaran, izin operasional kapal, hingga penelusuran terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat.
Batam sebagai kawasan strategis perdagangan dan wilayah FTZ seharusnya memiliki pengawasan laut yang ketat. Jika jalur-jalur distribusi nonformal dibiarkan berkembang tanpa kontrol, maka potensi kerugian negara, pelanggaran kepabeanan, dan rusaknya wibawa penegakan hukum bisa semakin besar.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Bea Cukai Batam, KSOP, maupun pihak yang disebut dalam informasi lapangan belum memberikan keterangan resmi. Redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan guna memperoleh informasi berimbang dan akurat. (Red)





