Bali Perkuat Konsep Pariwisata Berkelanjutan, Penataan Destinasi Dimulai November 2025
Bali memperkuat kebijakan pariwisata berkelanjutan melalui penataan sejumlah destinasi prioritas sepanjang November 2025. Pemerintah daerah fokus pada evaluasi carrying capacity, pembenahan kawasan pantai dan wisata alam, serta peninjauan proyek infrastruktur yang berpotensi mengganggu lingkungan.
NewsCyber.id — Denpasar, 21 November 2025. Pemerintah Provinsi Bali bersama pemangku kepentingan pariwisata mulai memperkuat penataan destinasi sebagai langkah mendorong pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. Kebijakan ini menjadi fokus utama sepanjang November 2025, menyusul tekanan kunjungan wisatawan dan perlunya menjaga daya dukung lingkungan di sejumlah kawasan populer.
Penataan dilakukan di beberapa destinasi prioritas seperti kawasan pantai, wisata alam, dan titik-titik yang mengalami pertumbuhan kunjungan signifikan sepanjang tahun. Evaluasi carrying capacity (kapasitas tampung destinasi) menjadi salah satu aspek yang dikaji secara intensif, terutama pada destinasi yang tergolong rentan terhadap kerusakan lingkungan.
“Bali tidak lagi mengejar jumlah kunjungan semata. Fokus kita adalah kualitas pengalaman wisatawan dan keberlanjutan lingkungan,” ujar pejabat pariwisata daerah dalam keterangan resminya.
Penataan Kawasan Pantai dan Wisata Alam
Sejumlah pantai di Badung, Gianyar, dan Karangasem memasuki tahap pembenahan untuk mengurangi penumpukan wisatawan di jam sibuk. Otoritas setempat menguji coba pengaturan arus kunjungan, termasuk opsi penjadwalan dan pembatasan pengunjung di beberapa titik.
Upaya konservasi juga dilakukan di kawasan wisata alam seperti jalur trekking, air terjun, dan ruang terbuka hijau. Pemerintah daerah bekerja sama dengan komunitas lokal untuk memperkuat program edukasi lingkungan bagi wisatawan.
Model Pariwisata “Berkualitas dan Berkelanjutan” Diperkuat
Bali mulai beralih dari model pariwisata massal menuju fokus pada wisatawan berkualitas. Pemerintah menekankan bahwa keberlanjutan adalah fondasi jangka panjang, terutama setelah tren kunjungan wisatawan yang kembali meningkat pada 2025.
Pendekatan baru ini sejalan dengan arah strategi nasional yang menekankan digitalisasi, pemerataan kunjungan, dan pelibatan masyarakat lokal dalam rantai nilai pariwisata.
Proyek-Proyek Destinasi Dievaluasi
Momentum penataan destinasi juga diperkuat oleh evaluasi sejumlah proyek infrastruktur pariwisata yang menuai perhatian publik, termasuk rencana konstruksi di kawasan tebing dan pantai. Pemerintah daerah menegaskan bahwa setiap proyek harus memenuhi prosedur analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan tidak mengganggu keaslian lanskap Bali.
“Pembangunan harus mengikuti koridor lingkungan. Kita tidak ingin ada pembangunan yang merusak identitas alam Bali,” tegas pejabat terkait.
Kesimpulan
Penataan destinasi dan penguatan konsep pariwisata berkelanjutan menjadi fokus utama Bali menjelang akhir tahun 2025. Langkah ini diharapkan menjadi pondasi bagi pengembangan pariwisata yang lebih teratur, ramah lingkungan, dan memberi nilai tambah lebih besar bagi masyarakat lokal.
(Ragil)




